| Senin - Sabtu | : | 09:00 - 20:00 WIB |
| Minggu | : | 09:00 - 21:00 WIB |
Rumah hijau merupakan rumah yang paham betul akan kontribusinya terhadap lingkungan. Makanya, perancangannya benar-benar mempertimbangkan kondisi alam di sekitarnya. Selain baik bagi lingkungan, rumah ini juga baik bagi penghuninya.
Penjelasan lebih lengkap mengenai manfaatnya dapat Anda simak di bawah ini.

Dalam konteks arsitektur dan lingkungan, green home atau rumah hijau adalah sebutan untuk rumah yang dirancang agar pemakaian energi dan sumber daya lebih efisien dan bebannya terhadap lingkungan lebih ringan.
Singkatnya, rumah ini cenderung lebih hemat energi, hemat air, dan lebih ramah lingkungan, sambil tetap mengutamakan kenyamanan penghuninya.
Munculnya istilah ini berkaitan dengan perkembangan gagasan sustainable building atau bangunan berkelanjutan yang menguat pada akhir abad ke-20.
Dua penyebabnya yaitu:
Muncul kesadaran bahwa bangunan menggunakan energi untuk penerangan, pendinginan, pemanasan, air panas, dan berbagai aktivitas lainnya dalam jumlah besar.
Berkembang gerakan peduli lingkungan pada sekitar tahun 1960-an dan 1970-an.

Alih-alih melihat banyak sedikitnya tanaman yang ada, ciri rumah hijau adalah sebagai berikut:
Rumah hijau berupaya memangkas pemakaian energi buatan semaksimal mungkin melalui pemanfaatan lingkungan sekitar.
Contohnya, penempatan dan ukuran jendela diperhitungkan agar cahaya alami cukup untuk menerangi ruangan pada siang hari. Selain itu, ventilasi silang memungkinkan udara bergerak melintasi rumah dari satu sisi ke sisi lain yang berpotensi mengurangi ketergantungan pada AC.
Di samping itu, pemakaian air di rumah ini diperhatikan betul, mulai dari masuk ke rumah sampai akhirnya menjadi air buangan.
Penggunaan perangkat sanitasi hemat air dan keran berdebit rendah dapat mengurangi konsumsi air. Pada tingkat yang lebih lanjut, rumah dapat memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan tertentu, misalnya menyiram tanaman atau membersihkan area di luar rumah.
Ciri terakhir terlihat dari proses pembangunan rumahnya. Pemilihan material mempertimbangkan:
Daya tahan material
Kebutuhan perawatan
Asal bahan
Kandungan daur ulang
Dampaknya terhadap lingkungan
Material yang tahan lama juga menjadi pertimbangan penting. Pasalnya, semakin awet suatu komponen bangunan, semakin sedikit pula kebutuhan untuk menggantinya.

Dengan perancangan yang matang, rumah ini dapat memberikan empat manfaat berikut.
Efisiensi energi dan air dapat langsung mempengaruhi pengeluaran rutin. Pencahayaan alami, misalnya, mengurangi kebutuhan akan lampu pada siang hari. Di sisi lain, ventilasi yang baik dapat mengurangi ketergantungan pada AC.
Pada dasarnya, penghematan itu juga bergantung pada desain rumah dan perilaku penghuninya. Namun, setidaknya rumah membutuhkan lebih sedikit sumber daya untuk menjalankan fungsi sehari-hari.
Perancangan bukaan, ventilasi, dan pencahayaan alami yang tepat dapat menciptakan ruang yang lebih nyaman. Rumah juga bisa terasa lebih terang pada siang hari tanpa harus menyalakan banyak lampu. Kalau sirkulasi udaranya baik, ruangan tidak mudah terasa pengap.
Penggunaan listrik yang lebih rendah berarti kebutuhan energi rumah tangga juga berkurang, sedangkan penghematan air mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.
Pemilihan material yang lebih tahan lama juga dapat mengurangi frekuensi penggantian material dan jumlah limbah konstruksi maupun renovasi.
Rumah yang hemat energi lebih diminati oleh calon penghuni maupun pembeli. Apalagi, perhatian terhadap efisiensi energi dan green construction kian menguat.

Berikut adalah beberapa konsekuensi dari membangun atau membeli green home, terutama jika penerapannya menuntut komitmen jangka panjang.
Sistem seperti panel surya, perangkat sanitasi hemat air, atau teknologi pengelolaan energi membutuhkan biaya pemasangan yang terkadang tidak sedikit.
Jadi, meskipun rumah tersebut berpotensi menghemat biaya listrik dan air dalam jangka panjang, modal awalnya bisa lebih besar jika dibandingkan dengan rumah standar.
Dalam merancang green home, arsitek perlu memperhitungkan banyak hal sekaligus, seperti orientasi bangunan, arah matahari, pola angin, material, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, manfaat-manfaat di atas bisa saja tidak tercapai karena kesalahan dalam desain.
Jadi, semakin menyeluruh penerapan konsep rumah ini, semakin penting pula perencanaan yang matang sejak awal pembangunan.
Jika rumah mengandalkan teknologi tambahan, itu tidak berarti urusannya selesai setelah alatnya dipasang. Panel surya tetap membutuhkan perawatan, sama seperti perangkat hemat energi lainnya.
Mengabaikan pemeliharaan dapat menurunkan efisiensi sistem. Tak hanya itu, sistem yang rusak bahkan dapat meningkatkan biaya perbaikan.
Penerapan konsep green home sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya. Artinya, di satu daerah rumah ini mungkin menguntungkan, sementara di daerah lain tidak.
Contohnya, rumah di kawasan kota padat. Kondisi pencahayaan dan sirkulasi udaranya kurang optimal dibandingkan dengan rumah di lahan terbuka, sehingga kurang sesuai untuk menerapkan konsep ini.

Teknologi mahal bukan syarat utama. Berikut bukti bahwa konsep green home dapat Anda terapkan dengan biaya hemat.
Contoh pertama adalah rumah dua lantai dengan jendela di sisi depan dan belakang, serta bukaan di sisi-sisi yang membuat udara mengalir menembus ruangan. Di jendelanya dipasang kanopi atau kisi-kisi, sehingga cahaya tetap masuk, namun panas matahari langsung berkurang.
Udara panas di siang hari dapat mengalir keluar melalui bukaan yang lebih tinggi, lalu udara sejuk masuk melalui bukaan yang lebih rendah. Rumah pun tetap mendapat pencahayaan dan sirkulasi udara alami, sehingga penggunaan lampu dan AC berkurang.
Contoh ini dapat ditiru apabila Anda belum yakin untuk berkomitmen atau belum siap mengeluarkan biaya untuk teknologi yang mahal.
Tidak perlu halaman luas, rumah dengan lahan terbatas dapat mempunyai sedikit area hijau, misalnya taman depan atau halaman belakang.
Sebagian permukaan tanah dibiarkan menyerap air, sementara air hujan dari atap dapat diarahkan ke area resapan atau ditampung terlebih dahulu. Dengan begitu, air hujan tidak langsung mengalir sepenuhnya ke saluran pembuangan.

Ini menarik karena rumah hijau sebenarnya tidak harus dipahami hanya sebagai bangunan tunggal. Lingkungan tempat rumah berdiri juga mempengaruhi kualitas hidup dan keberlanjutan kawasan.
Ruang hijau ternyata juga hadir di lingkungan hunian. The Essence menyediakan ruang terbuka hijau, jalur jogging, dan taman.
Menariknya, green home tidak semestinya dimaknai hanya sebagai bangunan tunggal. Lingkungan tempat rumah itu berdiri juga turut menentukan kualitas hidup penghuninya.
Ini sejalan dengan konsep eco township yang diusung oleh JGC, yang menjadikan ruang terbuka hijau sebagai bagian dari konsep kawasan tersebut. Tertarik untuk menempati salah satu rumah hijau di The Essence? Hubungi kami dan dapatkan penawaran terbaik.